laporan Richard Burton di Jakarta
 
hkinews.com berita Paten
 

Ditjen HKI Adakan Bimbingan Teknis Paten Drafting Bagi Universitas di Palu

Selasa, 08/04/2014 [05:06:20]
 
Ket.Gambar : Ilustrasi.

HKINEWS, Palu
Direktorat Jenderal (Ditjen) Hak Kekayaan Intelektual (HKI) menggelar Bimbingan Teknis Paten Drafting bagi Universitas di Swissbell Hotel, (3/4/2014) lalu. Kegiatan yang dihadiri oleh kurang lebih 50 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen serta peneliti ini dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenkumham Sulawesi Tengah Rosman Siregar.

Selain itu, turut hadir Rektor Universitas Tadulako (Untad) M. Basir Cyio, sebagai narasumber yakni Direktur Kerja Sama dan Promosi Parlagutan Lubis dan Pemeriksa Paten Mahruzar serta sebagai moderator Ketua Sentra HKI Untad Adfiyanti Fadjar.

Penggunaan Paten untuk kepentingan pendidikan dan penelitian dapat dilakukan untuk pengembangan dan alih teknologi. Paten dapat tumbuh menjadi mata rantai HKI yang sangat potensial yang meliputi kreasi, perlindungan dan eksploitasi. Oleh karena itu, Paten menjadi salah satu bidang HKI yang dapat menjadi sumber inovasi, riset dan teknologi yang menghasilkan produk-produk kreatif yang mempunyai nilai komersial.

“Universitas dan lembaga litbang merupakan salah satu aset bangsa yang menyimpan begitu banyak potensi kreator dan innovator. Selain itu juga merupakan pilar utama tumbuhnya teknologi dan inovasi-inovasi baru serta pendukung dalam pengembangan teknologi, alih teknologi dan penyebaran teknologi,” kata Rosman dalam sambutannya.

“Universitas dapat mengelola hasil penelitian Paten secara komersial dengan cara pembagian keuntungan baik dengan inventor, penyandang dana penelitian dan Universitas atau lembaga Litbang itu sendiri. Komersialisasi Paten oleh Universitas dan lembaga Litbang dapat menjadi tolok ukur kemajuan teknologi di Indonesia,” tambahnya.

Berdasarkan hasil kajian sekretariat World Intellectual Property Organization (WIPO) diketahui bahwa Indonesia memiliki jumlah Sentra HKI terbanyak di antara negara ASEAN lainnya. Seharusnya jumlah pendaftaran Paten dari inventor Indonesia akan lebih banyak juga tetapi pada kenyataannya, tingkat daya saing teknologi tinggi di Indonesia masih jauh berada di bawah negara lainnya seperti Singapura dan Malaysia.

Hal itu terlihat, dimana rendahnya kemampuan teknologi Indonesia tercermin dari sedikitnya jumlah permohonan pendaftaran Paten dari Indonesia baik di dalam maupun luar negeri.

M. Basir Cyio juga menjelaskan bahwa di Tadulako banyak yang berpotensi mendapatkan Paten tetapi proses dan prosedurnya terkadang kurang memahami. Sementara itu, sedangkan penilaian terpenting suatu Universitas ada 2 (dua) yaitu artikel ilmiah hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal internasional dan jurnal nasional yang terakreditasi serta berapa banyak Universitas tersebut memiliki Paten dari para penelitinya.

“Oleh sebab itu, kami ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual yang telah memfasilitasi kolega kami agar dapat mengikuti Bimtek ini sehingga bermanfaat untuk diri pribadi dan dapat mengangkat Universitas Tadulako secara keseluruhan,” tutup Basir.

Sumber ; Humas Ditjen HKI
 
#silahkan hubungi redaksi untuk seluruh keluhan dan pengaduan hkinews.com!